RISKA Logo
RISKARemaja Islam Sunda Kelapa
← Kembali ke Artikel
Kajian & Studi Islam• 5 September 2026

Barakah: Jiwa yang Hilang dari Produktivitas

Produktivitas bukan cuma soal hasil. Niat, ikhtiar, dampak, dan kedekatan kepada Allah membuat kesibukan kita punya arah dan barakah.

Ustadz Faris BQ dan Coach Mohammed Faris di depan judul Barakah: The Missing Soul of Productivity pada latar hijau

Sibuk terus, target tercapai, tapi hati tetap kosong. Menurut Coach Mohammed Faris, ini bisa terjadi saat pekerjaan menjadi seluruh identitas kita. Nilai diri akhirnya diukur dari jabatan, angka, dan hasil, padahal identitas utama seorang Muslim adalah hamba Allah.

Produktif Bukan Sekadar Banyak Hasil

Budaya kerja modern sering menilai sukses hanya dari hasil. Target tercapai berarti berhasil. Kalau gagal, diri terasa tidak berharga. Budaya barakah memakai ukuran yang berbeda: niat yang benar, ikhtiar terbaik, dan hasil yang diserahkan kepada Allah.

Ini bukan alasan untuk bekerja asal-asalan. Kita tetap serius dan punya target, tetapi hasil bukan satu-satunya penentu nilai diri. Ambisi dunia juga diarahkan untuk akhirat. Pekerjaan, keluarga, dan peran sosial dijalani sebagai bagian dari ibadah.

Karena itu, kegiatan yang tidak menghasilkan uang secara langsung tetap bisa produktif. Salat, membaca Al-Qur’an, menemani orang tua, menjenguk orang sakit, belajar, dan beristirahat punya tempat dalam hidup seorang Muslim.

Barakah Tidak Selalu Berarti Bertambah

Barakah tidak selalu hadir sebagai uang atau pencapaian yang makin banyak. Ia bisa berupa ketenangan, kesehatan yang terjaga, keluarga yang baik, waktu yang terasa cukup, atau karya kecil yang dampaknya panjang.

Jadi, sebelum merasa hidup tidak berkah, coba lihat lagi nikmat yang sudah ada. Bisa jadi Allah sedang menjaga kita dari banyak masalah yang tidak pernah kita sadari.

Punya Waktu untuk Reset

Coach Mohammed Faris menyebut salat lima waktu sebagai titik reset harian. Salat mengingatkan kita tentang siapa diri kita dan untuk siapa kita bekerja. Karena itu, jangan jalani salat sekadar cepat selesai lalu kembali sibuk.

Puasa juga bisa menjadi reset rutin, sedangkan Ramadan menjadi reset tahunan. Kita pun dapat membuat kebiasaan sederhana, misalnya membaca Al-Qur’an sebelum membuka pekerjaan dan notifikasi.

Saat berada dalam fase belum bekerja atau belum mencapai target, jangan langsung merasa gagal. Tetap tanam benih untuk fase berikutnya dengan belajar, melamar, dan mencari peluang. Sambil menunggu, maksimalkan waktu untuk keluarga, ilmu, dan kegiatan yang bermanfaat.

Produktivitas yang berkah bukan tentang memasukkan lebih banyak tugas ke dalam hidup. Intinya adalah memberi arah pada kesibukan, menjaga ibadah, dan memastikan apa yang kita lakukan membawa manfaat serta mendekatkan diri kepada Allah.


Yuk simak kajian selengkapnya di sini

Tonton “[PARIS] Coach Mohammed Faris - BARAKAH: The Missing Soul of Productivity” di YouTube

Artikel Lainnya