Cinta yang Tak Pernah Usai
Kehilangan adalah bagian dari hidup yang nggak pernah benar-benar bisa kita hindari. Kita bisa kehilangan orang yang kita sayang, sesuatu yang selama ini kita

Kehilangan adalah bagian dari hidup yang nggak pernah benar-benar bisa kita hindari. Kita bisa kehilangan orang yang kita sayang, sesuatu yang selama ini kita perjuangkan, atau bahkan rutinitas yang membuat hidup terasa aman. Tapi dari kehilangan, ada hal yang justru bisa kita pelajari: tentang cinta, tentang keteguhan, dan tentang kepada siapa sebenarnya kita bergantung.
Hal itu tergambar dari kisah Rasulullah ﷺ di akhir hayatnya. Dalam kondisi yang semakin lemah, salah satu hal yang tetap beliau pikirkan adalah salat. Ketika ditanya apakah waktu salat sudah tiba, beliau meminta Bilal mengumandangkan azan dan Abu Bakar menjadi imam. Bahkan ketika keadaan fisiknya tidak memungkinkan untuk berjalan seperti biasa, Rasulullah ﷺ tetap berusaha hadir untuk salat.
Ada sesuatu yang sederhana tapi kuat dari kisah tersebut. Ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja, apa yang tetap kita pegang?
Bagi Rasulullah ﷺ, salat bukan sekadar rutinitas. Ia menjadi bagian dari arah hidup yang tetap dijaga, bahkan ketika tubuh sedang berada di batas kemampuannya.
Lalu tibalah saat Rasulullah ﷺ wafat. Abu Bakar yang sebelumnya tidak berada di tempat segera datang, melihat Rasulullah ﷺ, lalu mencium kening beliau. Di tengah suasana kehilangan yang begitu berat, Abu Bakar mengingatkan para sahabat bahwa manusia akan meninggal, sementara Allah tidak pernah mati.
Kalimat itu terasa relevan setiap kali kita berhadapan dengan kehilangan. Ada orang-orang yang begitu kita cintai, tetapi pada akhirnya mereka tetap akan pergi. Yang bisa kita lakukan bukan menahan kepergian, melainkan memastikan bahwa cinta yang pernah ada tidak berhenti begitu saja.
Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan kekayaan sebagai warisan. Yang terus hidup setelah beliau adalah iman, ilmu, dan nilai yang beliau ajarkan.
Mungkin itu yang membuat cinta bisa bertahan lebih lama daripada kehadiran seseorang. Bukan karena kita bisa terus memilikinya, tetapi karena kebaikan yang ia tanam tetap tumbuh setelah ia pergi.
Pada akhirnya, kehilangan mengingatkan kita bahwa semua yang kita punya hanyalah titipan. Dan ketika waktunya tiba, semuanya akan kembali kepada pemiliknya.
Tonton kajian lengkapnya di PARIS - Ustadz Izzuddin Bahalwan - Cinta Yang Tak Pernah Usai - YouTube
Artikel Lainnya

Pintu Penyesalan
Dosa sering dimulai dari celah kecil. Kenali empat pintu masuknya dan tutup akses sejak awal sebelum hati terlanjur terbiasa.

Barakah: Jiwa yang Hilang dari Produktivitas
Produktivitas bukan cuma soal hasil. Niat, ikhtiar, dampak, dan kedekatan kepada Allah membuat kesibukan kita punya arah dan barakah.

Produktivitas Berkah: Menjadikan Allah dan Akhirat sebagai Poros
Produktivitas yang berkah tidak cuma mengejar angka. Ia berpusat pada Allah, diarahkan untuk akhirat, dan memberi manfaat.
