Enak Belum Tentu Halal
Pernah nggak sih kita makan sesuatu hanya karena kelihatannya enak, tanpa pernah benar-benar bertanya apa yang ada di baliknya?

Pernah nggak sih kita makan sesuatu hanya karena kelihatannya enak, tanpa pernah benar-benar bertanya apa yang ada di baliknya?
Soal makanan, selera memang subjektif. Ada yang suka pedas, ada yang nggak. Ada yang suka makanan sederhana, ada yang rela antre panjang demi satu menu. Tapi dalam Islam, ada satu standar yang tidak bergantung pada selera: halal atau haram.
Salah satu konsep yang dibahas adalah syubhat, yaitu ketika status suatu makanan menjadi tidak jelas bagi seseorang karena informasi yang belum diketahui. Sebuah produk bisa terlihat aman, tetapi kita belum tahu bagaimana proses penyembelihannya atau apakah ada bahan lain yang digunakan di dalamnya. Persoalannya bukan selalu karena hukum makanan tersebut tidak jelas, tetapi karena kita belum memiliki informasi yang cukup.
Ada beberapa kriteria umum yang perlu diperhatikan. Makanan dapat menjadi haram karena mengandung sesuatu yang najis, memabukkan, atau memberikan mudarat bagi tubuh. Sementara makanan yang berasal dari hewan memiliki kriteria tambahan, termasuk jenis hewannya dan bagaimana proses penyembelihannya.
Pembahasannya pun dekat dengan keseharian. Mulai dari makanan yang menggunakan bahan seperti wine, angciu, atau mirin, sampai pertanyaan tentang bagaimana status bahan yang mengalami proses pemasakan. Bahkan kopi luwak ikut dibahas dari sisi proses dan status bahan yang melewati pencernaan hewan.
Pada akhirnya, memilih makanan bukan cuma tentang, “Enak nggak, ya?” Ada pertanyaan lain yang nggak kalah penting: “Halal nggak, ya?”
Karena dalam memilih apa yang masuk ke tubuh, rasa bisa menjadi pertimbangan. Tapi halal tetap menjadi standar.
Tonton kajian lengkapnya di PARIS - Ustadz Muhammad Aqil Haidar - Enak Belum Tentu Halal (audio) - YouTube
Artikel Lainnya

Pintu Penyesalan
Dosa sering dimulai dari celah kecil. Kenali empat pintu masuknya dan tutup akses sejak awal sebelum hati terlanjur terbiasa.

Barakah: Jiwa yang Hilang dari Produktivitas
Produktivitas bukan cuma soal hasil. Niat, ikhtiar, dampak, dan kedekatan kepada Allah membuat kesibukan kita punya arah dan barakah.

Produktivitas Berkah: Menjadikan Allah dan Akhirat sebagai Poros
Produktivitas yang berkah tidak cuma mengejar angka. Ia berpusat pada Allah, diarahkan untuk akhirat, dan memberi manfaat.
