Pencitraan No, Keikhlasan Yes
Kadang kita sibuk memastikan orang lain melihat kebaikan yang kita lakukan, sampai lupa bertanya: sebenarnya, untuk siapa semua ini kita lakukan?

Kadang kita sibuk memastikan orang lain melihat kebaikan yang kita lakukan, sampai lupa bertanya: sebenarnya, untuk siapa semua ini kita lakukan?
Bagi Ustadz Oemar Mita, salah satu perkara paling berat dalam beribadah bukan sekadar melakukan amal, tetapi menjaga agar hati tetap ikhlas. Sebab niat berada di dalam hati, dan sesuatu yang terlihat baik di hadapan manusia belum tentu memiliki tujuan yang sama di hadapan Allah.
Ia menggambarkan riya dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan hari ini: melakukan sesuatu yang seharusnya ditujukan kepada Allah, tetapi diam-diam berharap tepuk tangan, pujian, sorotan, atau respons positif dari manusia. Bahkan ibadah yang terlihat sederhana bisa berubah arah ketika perhatian mulai bergeser dari mencari rida Allah menjadi mencari pengakuan.
Di era media sosial, persoalan ini terasa semakin dekat. Kita hidup di tengah budaya yang mendorong banyak hal untuk dibagikan. Apa yang sedang dilakukan, pencapaian, aktivitas, bahkan kebaikan bisa dengan mudah masuk ke ruang publik. Padahal, menurut Ustadz Oemar Mita, tidak semua hal harus diperlihatkan. Ia menyebut kehidupan yang menjaga sunah sebagai private living, yaitu tidak menjadikan apa yang kita kerjakan sebagai sesuatu yang selalu perlu diketahui orang lain.
Bukan berarti setiap unggahan otomatis adalah riya. Justru di akhir kajian, ia mengingatkan agar kita tidak mudah menilai niat orang lain hanya dari apa yang terlihat. Menilai apakah seseorang ikhlas atau tidak bukan perkara sederhana.
Yang bisa kita lakukan adalah memeriksa diri sendiri.
Apakah kita tetap akan melakukan kebaikan ketika tidak ada yang melihat? Apakah kita masih bersemangat ketika tidak ada yang memuji? Dan ketika sebuah kebaikan mendapat perhatian, apakah hati kita tetap kembali kepada Allah?
Mungkin keikhlasan memang bukan tentang bagaimana terlihat baik di depan banyak orang, tetapi tentang siapa yang tetap kita tuju ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Yuk simak kajian selengkapnya di sini
Tonton “Ustadz Oemar Mita - Pencitraan No, Keikhlasan Yes” di YouTube
Artikel Lainnya

Pintu Penyesalan
Dosa sering dimulai dari celah kecil. Kenali empat pintu masuknya dan tutup akses sejak awal sebelum hati terlanjur terbiasa.

Barakah: Jiwa yang Hilang dari Produktivitas
Produktivitas bukan cuma soal hasil. Niat, ikhtiar, dampak, dan kedekatan kepada Allah membuat kesibukan kita punya arah dan barakah.

Produktivitas Berkah: Menjadikan Allah dan Akhirat sebagai Poros
Produktivitas yang berkah tidak cuma mengejar angka. Ia berpusat pada Allah, diarahkan untuk akhirat, dan memberi manfaat.
