Perjalanan Bermakna
Pernah nggak, ketika hidup sedang terasa berat, kita cuma ingin semuanya cepat kembali seperti semula? Padahal, bisa jadi yang kita butuhkan bukan kembali

Pernah nggak, ketika hidup sedang terasa berat, kita cuma ingin semuanya cepat kembali seperti semula? Padahal, bisa jadi yang kita butuhkan bukan kembali ke keadaan sebelumnya, tetapi belajar melanjutkan perjalanan dengan cara yang berbeda.
Dalam kajian “Perjalanan Bermakna”, Ustadz Izzuddin Bahalwan mengajak melihat peristiwa Isra dan Mikraj sebagai perjalanan yang hadir setelah Rasulullah ﷺ melewati masa penuh kehilangan. Wafatnya Khadijah dan Abu Thalib menjadi salah satu fase berat dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Setelahnya, Allah memberikan perjalanan Isra dan Mikraj sebagai penghiburan sekaligus persiapan menghadapi fase kehidupan berikutnya.
Dari perjalanan itu, ada satu hal yang menarik untuk dibawa ke kehidupan sehari-hari: ujian tidak selalu datang dalam bentuk kesulitan. Ketika sedang susah, kita biasanya sadar bahwa kita sedang diuji. Namun ketika hidup terasa nyaman, kita justru bisa lupa bahwa kenyamanan juga merupakan bagian dari ujian. Karena itu, kesenangan pun perlu disikapi dengan syukur dan qanaah.
Ustadz Izzuddin kemudian membawa pembahasan pada sesuatu yang sering membuat kita lelah: keinginan untuk mengendalikan semuanya. Kita bisa berusaha mencari pekerjaan, mencari pasangan, belajar, atau melakukan berbagai ikhtiar. Tetapi hasil akhirnya bukan sepenuhnya berada di tangan kita. Ada bagian yang menjadi domain manusia untuk diusahakan, dan ada bagian yang menjadi domain Allah. Memahami batas ini membantu kita fokus pada apa yang memang bisa dikerjakan tanpa terus-menerus memikirkan hal yang berada di luar kendali.
Pesan lainnya terasa dekat dengan kehidupan anak muda hari ini. Media sosial membuat kita mudah mencari validasi, meminta pendapat banyak orang, dan terlalu sibuk dengan kehidupan yang tampil di layar. Padahal, bertemu langsung dengan orang lain, berbicara dengan mereka yang lebih berpengalaman, dan belajar dari perjalanan hidup mereka juga penting.
Pada akhirnya, perjalanan bermakna bukan tentang selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Ada hal yang perlu diusahakan, ada yang perlu diterima, dan ada yang perlu diserahkan kepada Allah. Yang penting, ketika satu fase berakhir, kita tetap punya alasan untuk melanjutkan perjalanan.
Tonton kajian lengkapnya di PARIS - Ustadz Izzuddin Bahalwan - Perjalanan Bermakna - YouTube
Artikel Lainnya

Pintu Penyesalan
Dosa sering dimulai dari celah kecil. Kenali empat pintu masuknya dan tutup akses sejak awal sebelum hati terlanjur terbiasa.

Barakah: Jiwa yang Hilang dari Produktivitas
Produktivitas bukan cuma soal hasil. Niat, ikhtiar, dampak, dan kedekatan kepada Allah membuat kesibukan kita punya arah dan barakah.

Produktivitas Berkah: Menjadikan Allah dan Akhirat sebagai Poros
Produktivitas yang berkah tidak cuma mengejar angka. Ia berpusat pada Allah, diarahkan untuk akhirat, dan memberi manfaat.
