RISKA Logo
RISKARemaja Islam Sunda Kelapa
← Kembali ke Artikel
Kajian & Studi Islam• 14 Agustus 2026

Seni Menata Hati

Pernah nggak sih kita merasa sudah banyak belajar, banyak ikut kajian, bahkan berusaha memperbaiki diri, tapi ada saja bagian dari diri yang rasanya belum ikut

Seni Menata Hati

Pernah nggak sih kita merasa sudah banyak belajar, banyak ikut kajian, bahkan berusaha memperbaiki diri, tapi ada saja bagian dari diri yang rasanya belum ikut berubah?

Bisa jadi yang perlu ditata bukan sekadar apa yang terlihat dari luar, tetapi apa yang ada di dalam: hati.

Dalam kajian ini, pembahasan tentang hati dimulai dari satu hal sederhana: baik buruknya kehidupan seseorang sangat berkaitan dengan bagaimana ia menjaga hatinya. Hati yang tertata akan memengaruhi cara seseorang berbicara, bersikap, dan menjalani kehidupan.

Menata hati ternyata bukan perkara yang selesai dalam sekali duduk. Justru, hati bisa berubah dan berbolak-balik. Karena itu, seseorang tidak seharusnya terlalu merasa aman dengan kondisi hatinya hanya karena secara lahiriah terlihat baik. Yang mengetahui kualitas hati seseorang adalah Allah.

Lalu, bagaimana cara menatanya?

Ada dua langkah yang menjadi inti pembahasan: takhliah dan tahliyah. Takhliah berarti mengosongkan hati dari kotoran, sementara tahliyah berarti menghiasinya dengan kebaikan. Sederhananya, sebelum mengisi sesuatu dengan hal-hal baik, ada bagian yang perlu dibersihkan terlebih dahulu.

Gambaran sederhananya seperti memori ponsel yang penuh. Kalau ruangnya sudah habis, kita perlu menghapus hal-hal yang tidak diperlukan sebelum bisa menyimpan sesuatu yang baru. Begitu juga hati. Dosa, maksiat, dan hal-hal yang membuat hati jauh dari Allah bisa menjadi penghalang ketika kita ingin mengisinya dengan ilmu dan kebaikan.

Karena itu, proses memperbaiki diri juga tidak harus selalu instan. Ada tahap yang perlu dilewati: membersihkan, memahami, kemudian menanam kebaikan secara perlahan. Perubahan membutuhkan proses, termasuk dalam belajar dan membangun kebiasaan baik.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menghias bagian luar, sementara bagian dalam belum selesai dibenahi.

Menata hati bukan tentang menjadi sempurna dalam satu malam. Ia tentang terus membersihkan diri, mengisinya dengan kebaikan, lalu membiarkan Allah membimbing proses pertumbuhannya.

Tonton kajian lengkapnya di PARIS - Ustadz Muhammad Vickry, M.A. - Seni Menata Hati

Artikel Lainnya