Sibuk Jadi Seseorang, Lupa Jadi Hamba
Pernah nggak kita terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa bertanya, sebenarnya semua ini untuk apa?

Pernah nggak kita terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa bertanya, sebenarnya semua ini untuk apa?
Pekerjaan, jabatan, bisnis, popularitas, pencapaian, bahkan berbagai target pribadi bisa memenuhi hari-hari kita. Semuanya terasa penting. Sampai tanpa sadar, kesibukan menjadi pusat hidup dan hubungan dengan Allah justru mendapat sisa waktu.
Di tengah padatnya aktivitas, kesempatan untuk duduk di majelis ilmu justru disebut sebagai sebuah nikmat. Bukan karena kita sedang meninggalkan dunia, tetapi karena ada kesempatan untuk berhenti sejenak dan kembali menyapa hati.
Salah satu pengingat yang kuat adalah tentang bagaimana kita memandang dunia. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan tempat singgah dalam perjalanan. Seperti seseorang yang berhenti di rest area saat menuju kota lain, ia boleh makan, mengisi bensin, dan beristirahat, tetapi tidak lupa bahwa masih ada tujuan yang harus dicapai.
Karena itu, persoalannya bukan apakah kita bekerja, mengejar karier, membangun usaha, atau ingin menjadi seseorang. Yang perlu diperiksa adalah orientasinya. Al-Qur’an mengingatkan untuk mencari apa yang membawa kepada akhirat, tanpa melupakan bagian kita di dunia. Dengan cara pandang ini, aktivitas dunia pun bisa menjadi bagian dari perjalanan menuju Allah.
Lalu ada satu kalimat yang menjadi inti pengingat malam itu: “Inni Abdullah”, aku adalah hamba Allah.
Modal dan peran setiap orang memang berbeda. Ada yang diberi ilmu lalu menjadi pengajar, diberi harta lalu menjadi pengusaha, diberi pengaruh lalu menjadi figur publik. Tetapi status asalnya tetap sama: seorang hamba. Apa yang dimiliki bukan sepenuhnya milik kita, melainkan sesuatu yang diberikan Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban.
Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan hanya, “Aku ingin jadi siapa?” tetapi juga, “Untuk apa Allah memberiku peran ini?”
Sebab menjadi seseorang tidak salah. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kesibukan mengejar peran membuat kita lupa pada status yang paling mendasar: menjadi hamba.
Tonton kajian lengkapnya di PARIS - Ustadz Bendri Jaisyurrahman - Sibuk Jadi Seseorang, Lupa Jadi Hamba - YouTube
Artikel Lainnya

Pintu Penyesalan
Dosa sering dimulai dari celah kecil. Kenali empat pintu masuknya dan tutup akses sejak awal sebelum hati terlanjur terbiasa.

Barakah: Jiwa yang Hilang dari Produktivitas
Produktivitas bukan cuma soal hasil. Niat, ikhtiar, dampak, dan kedekatan kepada Allah membuat kesibukan kita punya arah dan barakah.

Produktivitas Berkah: Menjadikan Allah dan Akhirat sebagai Poros
Produktivitas yang berkah tidak cuma mengejar angka. Ia berpusat pada Allah, diarahkan untuk akhirat, dan memberi manfaat.
