Syarat Sah Sholat Part 3
Pastikan waktu sudah masuk, hadap kiblat sesuai kemampuan, dan tutup aurat agar salat dilaksanakan secara sah.

Dalam bagian ketiga kajian syarat sah salat, Ustadz Muhammad Aqil Haidar membahas waktu, kiblat, dan aurat. Tiga hal ini perlu dipahami supaya salat tidak hanya dikerjakan, tetapi juga sah.
Waktu Salat Harus Sudah Masuk
Salat fardu tidak sah jika dimulai sebelum waktunya. Jadwal dan azan membantu, tetapi patokan dasarnya tetap pergerakan matahari.
Mengakhirkan salat beberapa menit masih boleh selama waktunya ada. Sebaliknya, memulai lebih cepat walau sedikit tetap bermasalah. Orang yang belum salat Subuh ketika matahari terbit juga tetap harus segera menunaikannya.
Hadap Kiblat Sesuai Kemampuan
Orang yang melihat Ka’bah perlu menghadap dengan tepat. Bagi yang jauh, mayoritas ulama mencukupkan arah kiblat. Tetap usahakan presisi, tetapi jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan meninggalkan salat.
Untuk orang sakit, posisi tubuh diarahkan ke kiblat semampunya. Salat sunah dalam perjalanan juga mendapat keringanan untuk mengikuti arah kendaraan. Dalam keadaan takut yang nyata, salat fardu dapat dilakukan sambil bergerak sesuai kondisi.
Tutup Aurat dengan Layak
Dalam mazhab Syafi’i, aurat laki-laki berada di antara pusar dan lutut. Aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
Pakaian perlu tetap menutup saat berdiri, rukuk, sujud, dan duduk. Bahannya tidak boleh menerawang hingga warna kulit terlihat. Menutup aurat tetap wajib meski salat sendirian.
Standar sah salat juga tidak selalu sama dengan standar berpakaian di ruang publik. Pakaian yang sangat ketat bisa saja menutup warna kulit, tetapi tetap perlu dihindari jika memperlihatkan bentuk tubuh dan mengundang fitnah.
Yuk simak kajian selengkapnya di sini
Tonton “[PARIS] Ustadz Muhammad Aqil Haidar - Syarat Sah Sholat part 3” di YouTube
Artikel Lainnya

Pintu Penyesalan
Dosa sering dimulai dari celah kecil. Kenali empat pintu masuknya dan tutup akses sejak awal sebelum hati terlanjur terbiasa.

Barakah: Jiwa yang Hilang dari Produktivitas
Produktivitas bukan cuma soal hasil. Niat, ikhtiar, dampak, dan kedekatan kepada Allah membuat kesibukan kita punya arah dan barakah.

Produktivitas Berkah: Menjadikan Allah dan Akhirat sebagai Poros
Produktivitas yang berkah tidak cuma mengejar angka. Ia berpusat pada Allah, diarahkan untuk akhirat, dan memberi manfaat.
