RISKA Logo
RISKARemaja Islam Sunda Kelapa
← Kembali ke Artikel
Kajian & Studi Islam• 6 Februari 2026

Tabayyun Bukan Asbun

Pernah nggak, baru lihat satu berita di media sosial, kita langsung punya kesimpulan sendiri? Apalagi kalau beritanya terasa sesuai dengan apa

Tabayyun Bukan Asbun

Pernah nggak, baru lihat satu berita di media sosial, kita langsung punya kesimpulan sendiri? Apalagi kalau beritanya terasa sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Jempol pun kadang lebih cepat bergerak daripada kita mencari tahu kebenarannya.

Di era digital, informasi memang semakin mudah didapat. Tapi yang sampai ke kita sering kali hanya potongan cerita. Menurut Ustadz Rizal Wahid, di sinilah tabayyun menjadi penting. Tabayyun bukan sekadar mencari tahu, tetapi usaha aktif untuk memastikan mana yang fakta dan mana yang masih sebatas “katanya”.

Namun, mengetahui fakta ternyata bukan berarti kita bebas membicarakannya. Ketika informasi yang belum jelas disebarkan, kita bisa terjatuh pada fitnah. Sementara ketika informasi itu benar, tetapi keburukan seseorang tetap dibicarakan kepada orang lain, bisa berubah menjadi ghibah. Bahkan, informasi yang benar pun dapat menjadi namimah ketika digunakan untuk mengadu domba.

Karena itu, tujuan tabayyun bukan supaya kita punya lebih banyak bahan untuk dibicarakan. Justru sebaliknya, tabayyun membantu kita mengontrol hati dan menjaga prasangka baik. Setelah tahu faktanya, kita tetap perlu bertanya: apakah informasi ini memang perlu saya komentari?

Di zaman media sosial, menjaga lisan juga berarti menjaga jempol. Komentar, unggahan, dan sindiran bisa menjadi perpanjangan dari ucapan kita. Ustadz Rizal mengingatkan untuk memberi jeda sebelum mengetik dan mempertimbangkan apakah yang akan kita sampaikan benar-benar baik dan diridai Allah.

Sebab, mungkin kita memang bisa mencari tahu semuanya. Tapi nggak semua hal harus kita komentari.

Tonton kajian lengkapnya di PARIS - Ustadz Rizal Wahid - Tabayyun Bukan Asbun - YouTube

Tag terkait:#PARIS

Artikel Lainnya