Tabayyun Bukan Asbun
Pernah nggak, baru lihat satu berita di media sosial, kita langsung punya kesimpulan sendiri? Apalagi kalau beritanya terasa sesuai dengan apa

Pernah nggak, baru lihat satu berita di media sosial, kita langsung punya kesimpulan sendiri? Apalagi kalau beritanya terasa sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Jempol pun kadang lebih cepat bergerak daripada kita mencari tahu kebenarannya.
Di era digital, informasi memang semakin mudah didapat. Tapi yang sampai ke kita sering kali hanya potongan cerita. Menurut Ustadz Rizal Wahid, di sinilah tabayyun menjadi penting. Tabayyun bukan sekadar mencari tahu, tetapi usaha aktif untuk memastikan mana yang fakta dan mana yang masih sebatas “katanya”.
Namun, mengetahui fakta ternyata bukan berarti kita bebas membicarakannya. Ketika informasi yang belum jelas disebarkan, kita bisa terjatuh pada fitnah. Sementara ketika informasi itu benar, tetapi keburukan seseorang tetap dibicarakan kepada orang lain, bisa berubah menjadi ghibah. Bahkan, informasi yang benar pun dapat menjadi namimah ketika digunakan untuk mengadu domba.
Karena itu, tujuan tabayyun bukan supaya kita punya lebih banyak bahan untuk dibicarakan. Justru sebaliknya, tabayyun membantu kita mengontrol hati dan menjaga prasangka baik. Setelah tahu faktanya, kita tetap perlu bertanya: apakah informasi ini memang perlu saya komentari?
Di zaman media sosial, menjaga lisan juga berarti menjaga jempol. Komentar, unggahan, dan sindiran bisa menjadi perpanjangan dari ucapan kita. Ustadz Rizal mengingatkan untuk memberi jeda sebelum mengetik dan mempertimbangkan apakah yang akan kita sampaikan benar-benar baik dan diridai Allah.
Sebab, mungkin kita memang bisa mencari tahu semuanya. Tapi nggak semua hal harus kita komentari.
Tonton kajian lengkapnya di PARIS - Ustadz Rizal Wahid - Tabayyun Bukan Asbun - YouTube
Artikel Lainnya

Pintu Penyesalan
Dosa sering dimulai dari celah kecil. Kenali empat pintu masuknya dan tutup akses sejak awal sebelum hati terlanjur terbiasa.

Barakah: Jiwa yang Hilang dari Produktivitas
Produktivitas bukan cuma soal hasil. Niat, ikhtiar, dampak, dan kedekatan kepada Allah membuat kesibukan kita punya arah dan barakah.

Produktivitas Berkah: Menjadikan Allah dan Akhirat sebagai Poros
Produktivitas yang berkah tidak cuma mengejar angka. Ia berpusat pada Allah, diarahkan untuk akhirat, dan memberi manfaat.
