Titik Terendah, Titik Terindah
Pernah nggak, ketika hidup sedang ada di titik paling berat, kita merasa seolah-olah semuanya berjalan salah?

Pernah nggak, ketika hidup sedang ada di titik paling berat, kita merasa seolah-olah semuanya berjalan salah? Rencana berantakan, masa depan terasa nggak jelas, dan kita mulai bertanya, “Kenapa harus gue yang mengalami ini?”
Tapi bagaimana kalau titik terendah dalam hidup ternyata bukan akhir dari perjalanan?
Ustadz Salim A. Fillah mengajak melihat krisis dari cara yang berbeda. Dalam Al-Qur’an, hampir tidak ada kisah tentang orang-orang yang diberi nikmat Allah yang berjalan tanpa ujian. Adam, Ibrahim, Musa, Yunus, hingga Rasulullah ﷺ masing-masing menghadapi krisis dengan bentuk yang berbeda. Jalan yang lurus ternyata bukan jalan yang selalu mulus.
Karena itu, Al-Qur’an bukan hadir untuk menjanjikan hidup tanpa krisis. Justru, Al-Qur’an menjadi bekal agar manusia mampu menghadapi krisis dan tetap menemukan arah di dalamnya. Persoalannya bukan hanya seberapa berat ujian yang datang, tetapi bagaimana kita memaknainya.
Kisah Nabi Yunus menjadi salah satu gambaran paling kuat. Di titik terendahnya, yang keluar dari lisannya bukan keluhan panjang, melainkan pengakuan kepada Allah dan kesadaran atas kesalahan diri. Dari sana, perjalanan hidupnya berlanjut. Begitu pula Nabi Musa. Dalam keadaan lapar, lelah, dan jauh dari tempat asal, ia tetap memilih membantu orang lain. Bahkan ketika bantuannya tidak langsung mendapat balasan, harapannya tetap kepada Allah.
Ada satu hal menarik dari kisah-kisah tersebut: titik terendah tidak selalu berarti titik paling buruk. Bisa jadi justru di sanalah seseorang menemukan kembali arah, menyadari keterbatasannya, dan belajar menggantungkan harapan kepada Allah.
Maka ketika krisis datang, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, “Kapan semua ini selesai?” tetapi, “Apa yang sedang Allah ajarkan melalui semua ini?”
Sebab krisis mungkin memang akan datang cepat atau lambat. Yang perlu kita jaga adalah cara kita melewatinya. Ketika Al-Qur’an menjadi sahabat dalam perjalanan, titik terendah pun bisa menjadi jalan menuju titik terindah.
Tonton kajian lengkapnya di PARIS - Ustadz Salim A. Fillah - Titik Terendah, Titik Terindah - YouTube
Artikel Lainnya

Pintu Penyesalan
Dosa sering dimulai dari celah kecil. Kenali empat pintu masuknya dan tutup akses sejak awal sebelum hati terlanjur terbiasa.

Barakah: Jiwa yang Hilang dari Produktivitas
Produktivitas bukan cuma soal hasil. Niat, ikhtiar, dampak, dan kedekatan kepada Allah membuat kesibukan kita punya arah dan barakah.

Produktivitas Berkah: Menjadikan Allah dan Akhirat sebagai Poros
Produktivitas yang berkah tidak cuma mengejar angka. Ia berpusat pada Allah, diarahkan untuk akhirat, dan memberi manfaat.
